Madura merupakan pulau kecil yang kaya dengan kesenian dan budaya lokal,
Madura terdiri dari empat kabupaten, yaitu kabupaten Bangkalan,
Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pada masing-masing kabupaten tersebut
mempunyai kekayaan dibidang seni yang berbeda-beda.
Kabupaten Sumenep
sampai saat ini terkenal dengan kota budaya di Madura karena disan
terdapat banyak jenis seni-budaya yang terus berkembang, misalnya tari,
lludruk, macopat, topeng dan masih banyak yang lainnya.
Bagi
masyarakat Madura, bulan Agustus hingga September adalah bulan yang
sangat ditunggu-tunggu, karena saat inilah mereka panen raya tembakau.
Meskipun harga tembakau anjlok tetapi warga tetap mensyukurinya.
Mereka
menggelar pangelaran seni yang menampilkan berbagai kesenian khas
Madura hingga karapan sapi. Kembang api ini menandai dibukanya
pangelaran seni yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas panen
raya tembakau.
Warga yang berkumpul di alun-alun
Kota Pamekasan Madura, Jawa Timur, dihibur dengan aneka tarian yang
diiringi dengan musik tradisional kas Pamekasan yang disebut musik
dault. Musik ini merupakan musik tradisional yang kerap digunakan untuk
membangunkan warga saat sahur tiba.
Dalam pertunjukkan musik
dault ini, seluruh pemain musik dan penari memakai topeng. Dalam
tariannya, para penari membawa tong kosong. Tong ini melambangkan kritik
pada pemimpin yang bisanya hanya bicara nyaring seperti tong kosong.
Tarian lain yang dipentaskan
adalah tari Samper Nyacek. Konon, tarian ini merupakan tarian para putri
Keraton Sumenep yang mengambarkan kepedulian mereka terhadap petani.
Tarian yang gerakannya berdasarkan gerakan menanam padi ini
dilanjutkan dengan Tari Pecot, kas Kabupaten Bangkalan. Tarian ini juga
melambangkan kehidupan petani saat bekerja di sawah.
Pesta rakyat
ini ditutup dengan karapan sapi yang digelar keesokan harinya. Dalam
karapan sapi ini, gengsi para peternak sapi dipertaruhkan. Karena
karapan sapi yang disebut Gubeng ini adalah yang terbesar.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar