Minggu, 07 Oktober 2012
Tari Gambuh Pamungkas, Tarian Keprajuritan
Tari Gambuh berkembang di Kabupaten
Sumenep Madura, yaitu reportoar tari yang menggambarkan peristiwa
pertempuran keprajuritan. Para penari menggunakan property dalam bentuk
tameng kecil yang dikenakan pada punggung tangan, pada tameng tersebut
dihias ornamen yang terbuat dari bahan cermin, cermin yang memantulkan
sinar ini sebagai salah satu senjata untuk melindungi diri dari serangan
musuh serta untuk membantu mengelabuhi pandangan musuh. Dalam penyajian
tari Gambuh diperagakan oleh empat penari laki-laki dalam posisi di
empat titik sudut.
Sedang komposisi penari yang dimainkan
oleh empat penari tersebut berdasarkan empat kiblat yaitu gambaran empat
arah mata angin, barat-timur-utara-selatan, sedangkan di bagian tengah
merupakan titik bayangan yang disebut sebagai titik kelima yang tidak
ada penarinya tetapi perlu diketahui oleh para penari bahwa di titik
bayangan tersebut sebagai mata hati, komposisi ini disebut sebagai
keblat papat lima pancer, yang disebut pancer adalah titik bayangan yang
ada di tengah
Teknik pernafasan yang digunakan oleh
para penari menggunakan pernafasan 1-1 yang dilakukan dengan cara
menghirup udara melalui salah satu sisi lubang hidung, ditampung di
perut kemudian dihembuskan melalui sisi lubang hidung lainnya.
Pengaturan nafas ini diuapayakan bisa mengalir dengan sendirinya secara
alami mengikuti gerak tubuh dengan tanpa paksaan.
Lintasan penari yang selalu dilakukan
kearah kanan merupakan simbol perputaran bumi serta simbol dari
perjalanan darah pada tubuh manusia, sedangkan gerakan kaki lebih
dominan pada perpindahan telapak kaki bergerak merapat lantai, hal ini
dilakukan sebagai transformasi energi bumi kedalam tubuh manusia.
Dalam pertunjukan Topeng
Dalang tari Gambuh ini disajikan pada bagian awal, yaitu sebagai
pembuka sebelum cerita yang digelar pada Topeng
Dalang. Tata busana terdiri dari celana-sembong-stagen-sabuk timang-
kace-polsdeker-klat bahu-ikat kepala-gungseng-keris-tameng kecil
berdiameter kurang lebih 15 centimeter.
Dalam tata busana tersebut ada semacam
hiasan kain yang diselipkan pada stagen berwarna
putih-merah-hijau-kuning. Putih sebagai simbol kesucian, merah sebagai
simbol keberanian, hijau sebagai simbol kesuburan, kuning sebagai simbol
ketulusan.
Dalam perkembangannya yaitu sekitra
tahun 1990-an Seniman tari Sumenep pernah menggarap tari Gambuh dengan
menggunakan senjata keris serta diinterpretasikan sebagai tarian
penyambutan tamu di keraton Sumenep. Namun pada priode selanjutnya
yaitu sekitar dekade tahun 2000-an penggarapan tari Gambuh mulai
berkembang dalam bentuk yang lain yaitu dengan nama Gambuh Pamungkas
yang lebih mengacu pada upaya mencari model penyajian yang lain dari
sebelumnya.
Data tentang Tari Gambuh Pamungkas masih
berupa arsip pribadi seniman dan pemerintah daerah setempat, belum
tersebar di lingkungan luar seniman maupun di lembaga Pendidikan, dan
belum tersedia dalam bentuk buku ajar menunjang pembelajaran tersebut
sangat dibutuhkan adanya”
Catatan Sejarah Tari Gambu
Pamungkas
Pada awalnya tari Gambu lebih dikenal
dengan Tari keris, dalam catatan Serat Pararaton tari Gambu disebut
dengan Tari Silat Sudukan Dhuwung, yang diciptakan oleh Arya Wiraraja dan diajarkan pada para pengikut Raden
Wijaya kala mengungsi di keraton Sumenep. Tarian tersebut pernah ditampilkan
di keraton Daha oleh para pengikut Raden Wijaya pada perayaan Wuku
Galungan yang dilaksanakan oleh Raja Jayakatong dalam suatu acara
pasasraman di Manguntur Keraton Daha yang selalu dilaksanakan setiap
akhir tahun pada Wuku Galungan. Para pengikut Raden Wijaya antara lain
Lembusora, Ranggalawe dan Nambi diadu dengan para Senopati Daha yakni
Kebo Mundarang, Mahesa Rubuh dan Pangelet, dan kemenangan berada pada
pengikut Rade Wijaya.
Tari Keris ciptaan Arya Wiraraja ini
lama sekali tidak diatraksikan. Pada masa kerajaan Mataram Islam di Jawa
yakni pada pemerintahan Raden Mas Rangsang Panembahan AGUNG Prabu
Pandita Cakrakusuma Senapati ing Alaga Khalifatullah (Sultan Mataram
1613-1645), seorang Raja yang sangat peduli dengan seni dan budaya. Maka
kala itu Sumenep diperintah oleh seorang Adipati kerabat Sultan Agung
yang bernama Pangeran Anggadipa tarian tersebut dihidupkan kembali
sekitar tahun 1630, diberi nama “Kambuh” dalam bahasa Jawa berarti
“terulang kembali” dan sampai detik ini terus diberi nama Kambuh dan
lama kelamaan berubah istilah menjadi tari Gambu (syaf/LM/dari beberapa
sumber)
Tulisan diatas menyalin dari : Tari Gambuh Pamungkas, Tarian Keprajuritan » Lontar Madura http://lontarmadura.com/tari-gambuh-pamungkas-tarian-keprajuritan/#ixzz28fYua7SK
Harap mencatumkan link sumber aktif
SENI SUARA
SENI SUARA
Dalam seni suara kesenian Melayu dapat dibahagikan kepada dua bahagian iaitu :
Seni Vokal
Endoi atau dendang Siti Fatimah dan ulit anak
Endoi atau dendang Siti Fatimah terkenal di negerii Perak, Selangor dan Negeri Sembilan manakala ulit anak dinegeri Terengganu. Biasanya dilagukan dalam upacara berbentuk keislaman seperti menyambut kelahiran anak atau upacara bercukur kepala.
Nazam atau naban
Berasal daripada Terengganu, Pahang dan Melaka. Dikarang dalam Bahasa Melayu yang mengisahkan riwayat Nabi Muhamad, para Nabi Allah dan para sahabat Rasul. Persembahan yang tidak disertai alat muzik ini memerlukan kemerduan suara.
Marhaban, nasyid dan qasidah
Merupakan nyanyian keagamaan. Marhaban ialah pujian kepada Nabi Muhamad dan dinyanyikan dalam Bahasa Arab. Nasyid ialah nyanyian dan berbentuk dakwah Islam iaitu terdapat dalam senikata Arab dan Melayu. Qasidah biasanya dinyanyikan dalam bahasa Arab yang mengandungi puisi memuji Nabi Muhamad dan para sahabat.
Lagu yang digabungkan dengan muzik
- Dikir Dikir dikenali dengan pelbagai nama seperti dikir maulud, dikir Pahang, dikir Rebana dan dikir berarak. Dikir-dikir ini dilagukan dengan iringan pukulan rebana atau kompang.
- Hadrah Sejenis nyanyian yang berasal daripada dikir. Dinyanyikan dengan iringan sejenis alat bercorak rebana yang hampir sama dengan kompang.
- Beduan Sejenis naynyian rakyat negeri Perlis dan diringi dengan bunyi-bunyian gendang. Beduan mempunyai persamaan dengan bentuk zikir dan burdah yang diringi dengan pukulan rebana.
- Dikir barat Sejenis nyayian yang terkenal dinegeri Kelantan. Nyanyiannya diringan dengan pukulan rebana.
- Ghazal
- Seni Muzik
- Muzik Tradisi Warisan Istana
- Tradisi tinggi (great tradition)
- Tradisi rendah (little tardition)
- Tradisi Muzik Rakyat
- Tradisi Muzik Melayu yang lain
Sabtu, 06 Oktober 2012
POTRE KONENG SUMENEP MADURA
Terdapat di Sumenep di Pulau Madura Jawa Timur dijuluki dengan “Potre
Koneng” (Putri Kuning) Oleh warga Madura Julukan ini ada dikarenakan di
Keraton
Sumenep pada jaman dahulu kala hiduplah seorang permaisuri Keraton
Sumenep yang bernama Ratu Ayu Tirto Negoro yang cantik jelita memiliki
kulit kuning langsat dan bersih dan putri tersebut berasal dari negeri
Cina.
Uniknya untuk menghormati sang putri tersebut atap Keraton Sumenep
diberi warna kuning yang hampir sama dengan kulit sang putri.
Pembangunan Keraton Sumenep Madura didirikan pada pertengahan kedua
abad ke-18 atas
prakarsa Raja Sumenep, yaitu Penembahan Sumolo atau Tumenggung Arya
Nata Kusuma.
Arsitek Keraton Sumenep Madura pada saat itu oleh seorang dari negeri
China bernama Liaw Piau Ngo. yang memadukan gaya arsitektur Eropa,
China, dan Jawa dan menghasilkan sebuah bangunan yang unik dan artistik.
Banyak wisatawan dapat melihat langsung
hasil perpaduan budaya Jawa, Eropa, dan Cina yang membentuk bangunan
yang terdapat pada Keraton Sumenep.
Bangunan Keraton Sumenep juga terdapat nuansa dari
keraton Jawa dimana pilar-pilar dan lekuk ornamennya yang bergaya Eropa
dan juga rangkaian atap yang menyerupai atau mirip kelenteng Cina.
Umumnya komposisi bangunan yang terdapat pada Keraton Sumenep Madura
tidak berbeda
jauh dengan keraton-keraton di Jawa yang mana sama-sama memiliki
pendopo
yang cukup luas untuk menerima tamu dan juga ruang untuk
peristirahatan raja, bahkan terdapat
lokasi pemandian untuk permaisuri dan putri-putri raja.
“Labang Mesem”(Bahasa Madura) yang artinya adalah pintu senyum terdapat
pada gapura Keraton Sumenep yang melambangkan keramahan keraton
terhadap para tamu yang berkunjung.
Terdapat “Kantor Koneng” dimana letaknya yaitu pada sisi kanan Keraton
yang berfungsi sebagai ruang kerja raja Sumenep pada saat masa itu dan
pada masa sekarang difungsikan sebagai museum tempat penyimpanan
koleksi peralatan rumah tangga keraton. Wisatawan juga dapat
mengunjungi Masjid Jamik Sumenep yang
mana usia Masjid Jamik Sumenep tak berbeda jauh dengan usia Keraton
Sumenep Madura.
Keraton Sumenep
dan Masjid Jamik Sumenep terletak di pusat kota Kabupaten Sumenep,
Madura,
Jawa Timur.
Untuk sampai Kota Kabupaten Sumenep wisatawan harus menyeberangi
pantai utara Jawa melewati Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju
Pelabuhan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura dengan memanfaatkan jasa
kapal feri. Lama perjalanan kira-kira setengah jam dengan biaya sekitar
Rp. 3.500.
Wisatawan juga bisa melintasi Pantai Utara dengan melewati Jembatan
Suramadu yang megah dengan panjang sekitar 5.4328 km dari Surabaya
dengan menghabiskan waktu sekitar 15 menit untuk melintasi Jembatan
Suramadu.
Pelabuhan Kamal Madura ini terletak di ujung barat pulau Madura dan
letak
Keraton Sumenep berada di ujung timur pulau Madura yang berjarak
tempuh sekitar100
km dari Pelabuhan Kamal dengan melintasi beberapa Kabupaten yaitu
Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan dan
Kabupaten Sumenep itu sendiri.
Di sekitar Keraton Sumenep wisatawan dapat memperoleh
keterangan atau cerita rakyat setempat yang mana belum termuat pada buku
manapun mengenai sejarah dan perkembangan keraton Sumenep.
Wisatawan juga bisa menginap di hotel yang mana terdapat di sekitar
Keraton Sumenep dengan harga yang terjangkau.
KESENIAN MADURA
Madura merupakan pulau kecil yang kaya dengan kesenian dan budaya lokal,
Madura terdiri dari empat kabupaten, yaitu kabupaten Bangkalan,
Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pada masing-masing kabupaten tersebut
mempunyai kekayaan dibidang seni yang berbeda-beda.
Kabupaten Sumenep sampai saat ini terkenal dengan kota budaya di Madura karena disan terdapat banyak jenis seni-budaya yang terus berkembang, misalnya tari, lludruk, macopat, topeng dan masih banyak yang lainnya.
Bagi masyarakat Madura, bulan Agustus hingga September adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu, karena saat inilah mereka panen raya tembakau. Meskipun harga tembakau anjlok tetapi warga tetap mensyukurinya.
Mereka menggelar pangelaran seni yang menampilkan berbagai kesenian khas Madura hingga karapan sapi. Kembang api ini menandai dibukanya pangelaran seni yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas panen raya tembakau.
Warga yang berkumpul di alun-alun Kota Pamekasan Madura, Jawa Timur, dihibur dengan aneka tarian yang diiringi dengan musik tradisional kas Pamekasan yang disebut musik dault. Musik ini merupakan musik tradisional yang kerap digunakan untuk membangunkan warga saat sahur tiba.
Dalam pertunjukkan musik dault ini, seluruh pemain musik dan penari memakai topeng. Dalam tariannya, para penari membawa tong kosong. Tong ini melambangkan kritik pada pemimpin yang bisanya hanya bicara nyaring seperti tong kosong.
Tarian lain yang dipentaskan adalah tari Samper Nyacek. Konon, tarian ini merupakan tarian para putri Keraton Sumenep yang mengambarkan kepedulian mereka terhadap petani.
Tarian yang gerakannya berdasarkan gerakan menanam padi ini dilanjutkan dengan Tari Pecot, kas Kabupaten Bangkalan. Tarian ini juga melambangkan kehidupan petani saat bekerja di sawah.
Pesta rakyat ini ditutup dengan karapan sapi yang digelar keesokan harinya. Dalam karapan sapi ini, gengsi para peternak sapi dipertaruhkan. Karena karapan sapi yang disebut Gubeng ini adalah yang terbesar.
Kabupaten Sumenep sampai saat ini terkenal dengan kota budaya di Madura karena disan terdapat banyak jenis seni-budaya yang terus berkembang, misalnya tari, lludruk, macopat, topeng dan masih banyak yang lainnya.
Bagi masyarakat Madura, bulan Agustus hingga September adalah bulan yang sangat ditunggu-tunggu, karena saat inilah mereka panen raya tembakau. Meskipun harga tembakau anjlok tetapi warga tetap mensyukurinya.
Mereka menggelar pangelaran seni yang menampilkan berbagai kesenian khas Madura hingga karapan sapi. Kembang api ini menandai dibukanya pangelaran seni yang digelar sebagai ungkapan rasa syukur atas panen raya tembakau.
Warga yang berkumpul di alun-alun Kota Pamekasan Madura, Jawa Timur, dihibur dengan aneka tarian yang diiringi dengan musik tradisional kas Pamekasan yang disebut musik dault. Musik ini merupakan musik tradisional yang kerap digunakan untuk membangunkan warga saat sahur tiba.
Dalam pertunjukkan musik dault ini, seluruh pemain musik dan penari memakai topeng. Dalam tariannya, para penari membawa tong kosong. Tong ini melambangkan kritik pada pemimpin yang bisanya hanya bicara nyaring seperti tong kosong.
Tarian lain yang dipentaskan adalah tari Samper Nyacek. Konon, tarian ini merupakan tarian para putri Keraton Sumenep yang mengambarkan kepedulian mereka terhadap petani.
Tarian yang gerakannya berdasarkan gerakan menanam padi ini dilanjutkan dengan Tari Pecot, kas Kabupaten Bangkalan. Tarian ini juga melambangkan kehidupan petani saat bekerja di sawah.
Pesta rakyat ini ditutup dengan karapan sapi yang digelar keesokan harinya. Dalam karapan sapi ini, gengsi para peternak sapi dipertaruhkan. Karena karapan sapi yang disebut Gubeng ini adalah yang terbesar.
Masyarakat Madura dikenal memiliki budaya yang khas, unik, stereotipikal,
dan stigmatik. Identitas budayanya itu dianggap sebagai deskripsi dari
generalisasi jatidiri individual maupun komunal etnik Madura dalam berperilaku
dan berkehidupan. Kehidupan mereka di tempat asal maupun di perantauan
kerapkali membawa ─ dan senantiasa dipahami oleh komunitas etnik lain atas
dasar ─ identitas kolektifnya itu. Akibatnya, tidak jarang di antara mereka
mendapat perlakuan sosial maupun kultural ─ secara fisik dan/atau psikis ─ yang
dirasakan tidak adil, bahkan tidak proporsional dan di luar kewajaran.
Berbagai deskripsi perilaku absurd orang-orang Madura terbiasa diungkap
dan ditampilkan ─ misalnya, dalam forum-forum pertemuan komunitas intelektual (well-educated)
─ sehingga kian mengukuhkan generalisasi identitas mereka dalam nuansa
tersubordinasi, terhegemonik, dan teralienasi dari “pentas budaya” berbagai
etnik lainnya sebagai elemen pembentuk budaya nasional. Kendati pun setiap
etnik mempunyai ciri khas sebagai identitas komunalnya, namun identitas Madura
dipandang lebih “marketable” daripada etnik lainnya untuk diungkap dan diperbincangkan,
terutama untuk tujuan mencairkan suasana beku atau kondisi tegang pada suatu
forum pertemuan karena dipandang relatif mampu dalam menghadirkan lelucon-segar
(absurditas perilaku).
Dalam konteks religiusitas, masyarakat Madura dikenal memegang kuat
(memedomani) ajaran Islam dalam pola kehidupannya kendati pun menyisakan
“dilema,” untuk menyebut adanya deviasi/kontradiksi antara ajaran Islam (formal
dan substantif) dan pola perilaku sosiokultural dalam praksis keberagamaan
mereka itu. Pengakuan bahwa Islam sebagai ajaran formal yang diyakini dan dipedomani
dalam kehidupan individual etnik Madura itu ternyata tidak selalu menampakkan
linieritas pada sikap, pendirian, dan pola perilaku mereka. Dilema praksis
keberagamaan mereka itu, kiranya menjadi tema kajian menarik terutama untuk memahami
secara utuh, mendalam, dan komprehensif tentang etnografi Madura di satu sisi,
dan keberhasilan penetrasi ajaran Islam pada komunitas etnik Madura yang oleh
sebagian besar orang/etnik lain masih dipandang (diyakini?) telah mengalami
internalisasi sosiokultural, di sisi lain. Pemahaman demikian diharapkan dapat
memberi kontribusi yang bermakna terutama bagi kejernihan dan kecerahan pola
pandang elemen warga-bangsa.
[1] Bahan presentasi pada forum Annual
Conference on Contemporary Islamic Studies, Direktorat Pendidikan Tinggi
Islam, Ditjen Pendidikan Islam, Departemen Agama RI, di Grand Hotel Lembang Bandung,
26–30 November 2006.
Langganan:
Postingan (Atom)

